Tak Perlu Bertengkar, Begini Cara Mendidik Anak yang Keras Kepala

  • Post by Julia
  • May 01, 2021
post-thumb

Cara Mendidik Anak yang Keras Kepala - Saat membesarkan anak, ada beberapa ciri yang bisa dilihat ya bu. Salah satunya adalah sifat keras kepala, terutama saat anak mulai bersekolah. Sekitar usia 6-9 tahun, anak-anak mulai membentuk keinginannya sendiri dan terkadang memaksanya untuk terpenuhi, apa pun yang terjadi.

Jika orang tua tidak mengizinkan, akan sering timbul pertengkaran dan Mama akan mulai merasa bahwa anak tersebut memiliki sifat keras kepala. Mengutip dari buku parenting pertama, sifat keras kepala sebenarnya bisa menjadi ciri khas yang dimunculkan oleh anak-anak bahkan sejak masa kanak-kanak.

Penting untuk dipahami bahwa sifat keras kepala adalah bagian dari kepribadian beberapa anak, tetapi pada orang lain sifat ini sebenarnya adalah cara untuk menegaskan keinginan mereka.

Untuk menghadapi anak yang keras kepala, Anda perlu melakukan beberapa trik dengan benar. Jika tidak demikian, maka hubungan komunikasi antara ibu dan anak bisa jadi sudah terputus oleh pertengkaran.

Berikut rangkuman informasi cara membesarkan anak bandel dari kami:

1. Dengarkan dan hindari berdebat

Komunikasi adalah jalan dua arah. Jika Anda ingin anak Anda mendengarkan apa yang Anda katakan, Anda harus terlebih dahulu mendengarkan apa yang diinginkan anak Anda. Anak yang berkemauan keras mungkin memiliki pendapat yang kuat dan cenderung membantah.

Dilaporkan oleh Mom Junction, anak-anak yang keras kepala juga bisa menjadi emosional, terutama ketika mereka merasa tidak didengarkan. Jadi, dengarkan apa yang diinginkan bayi Anda dan lakukan percakapan terbuka tentang apa yang dipikirkan mama.

Hindari gangguan langsung dari percakapan anak dan konseling yang panjang. Jika demikian, anak Anda akan semakin enggan untuk mengesampingkan pendapat Mama.

2. Jangan memaksa anak untuk membesar-besarkannya

Ketika Anda memaksakan keinginan pada anak, terutama hal-hal yang tidak mereka sukai, anak yang keras kepala cenderung memberontak. Ini bukan tidak mungkin, anak-anak juga akan marah.

Jadi sebaiknya hindari kebiasaan memaksa anak, bu. Sebaliknya, jika Anda ingin bayi Anda mendengarkan dan mengikuti nasehat Mama, lakukan dengan perlahan.

Misalnya, ketika anak bersikeras untuk menonton TV setelah waktu tidurnya, segera marah dan mematikan TV tidak akan membantu. Sebaliknya, duduklah bersamanya dan tunjukkan minat pada apa yang dilihat anak tersebut.

Jika Anda menunjukkan bahwa Anda peduli, anak Anda akan tertarik untuk menanggapi. Ketika hubungan dan kepercayaan mulai terbangun, akan lebih mudah bagi anak-anak untuk menerima nasihat ibu. Susan Stifelman mengutip ini dalam bukunya Parenting Without Power Struggles.

3. Tetap tenang dan hindari perasaan terbebani

Ketika Anda sedang emosional, apakah Anda cenderung mudah membentak anak Anda? Sebaiknya dihindari dulu saat menghadapi anak yang keras kepala. Meneriaki anak yang membangkang dan berteriak juga akan mengubah percakapan normal antara orang tua dan anak menjadi perang, oh ma. Bayi Anda mungkin melihat nada keras ibu sebagai ajakan untuk bertengkar.

Sebagai pribadi yang lebih dewasa, Anda diharapkan menjadi lebih bijak ketika berbicara dengan anak-anak Anda. Bantulah anak Anda memahami kebutuhan untuk bertindak dan berbicara dengan tenang.

Ketika momen berbicara dengan anak menjadi stres emosional, lakukan hal-hal kecil untuk menjaga ketenangan Anda. Misalnya, tarik napas dalam-dalam, basuh wajah sebentar, atau hindari kamar dulu.

4. Ciptakan lingkungan rumah yang menyenangkan

Anak-anak belajar melalui observasi dan pengalaman. Jika anak-anak melihat orang tua selalu bertengkar, anak-anak akan belajar meniru. Misalnya saat mama dan daddy sering bertengkar di rumah.

Konflik orang tua dapat menciptakan lingkungan yang membuat stres di rumah, yang pada gilirannya memengaruhi suasana hati dan perilaku anak. Menurut sebuah penelitian, konflik dalam keluarga dapat menimbulkan masalah sosial bahkan agresi pada anak.

5. Berikan alternatif bagi anak

Memberi tahu anak yang keras kepala apa yang harus dilakukan, juga dikenal sebagai dikte, dapat membuatnya lebih memberontak. Sebaliknya, tawarkan mereka pilihan untuk bekerja karena ini membuat mereka merasa seolah-olah mereka memegang kendali.

Anak-anak akan menghargai lebih banyak pilihan atau alternatif daripada orang tua yang dapat memutuskan sendiri apa yang ingin mereka lakukan. Batasi pilihan untuk menghindari kebingungan pada anak-anak. Beri pilihan setidaknya dua atau tiga. Misalnya, ketika Anda meminta anak Anda untuk membersihkan kamar, tanyakan apakah dia ingin mulai membersihkan tempat tidur atau lemari terlebih dahulu.

6. Jangan ragu untuk memberikan aturan dan hukuman

Seorang anak yang keras kepala membutuhkan aturan dan regulasi untuk mempelajari pengendalian diri. Jadi, jangan ragu untuk menetapkan batasan dan menjelaskan konsekuensinya.

Jika perlu, carilah juga masukan dari anak-anak tentang akibat yang akan terjadi dan pendapat mereka tentang masing-masing akibat tersebut. Konsistensi itu penting, tetapi tidak akan menimbulkan kekakuan. Penting untuk bersikap fleksibel pada waktu-waktu tertentu, seperti saat ibu dan keluarga sedang berlibur.

7. Cobalah untuk berpikir dari sudut pandang anak

Jangan terburu-buru saat menghadapi anak yang keras kepala. Lihatlah masalahnya dari sudut pandang anak dan cobalah untuk memahami mengapa dia berperilaku seperti itu.

Misalnya, jika Anda berjanji akan mengajak anak Anda ke taman tetapi tiba-tiba hal itu tidak terjadi karena hujan, maka Anda perlu menjelaskannya secara detail kepada anak Anda. Karena meski alasannya terbukti, kemungkinan besar anak hanya akan melihatnya sebagai janji yang diselamatkan.

Sekarang, ketika Mama perlahan bisa menjelaskan alasannya, bayi mungkin lebih menerima ini dan tidak begitu marah. Begitulah cara orang tua bisa mendidik anak yang keras kepala. Kalau butuh bantuan silahkan ajak Baba dan anggota keluarga lain untuk ikutan ya.